Header Ads

Mungkinkah BRIN Langsung Melompat ke Pesawat Tempur Seperti F-47? Sebuah Analisis Realistis

Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki ambisi besar untuk mengembangkan pesawat tempur dalam negeri. Namun, pertanyaan mendasar muncul: apakah Indonesia bisa langsung melompat ke proyek jet tempur canggih seperti F-47 yang baru saja diumumkan Amerika Serikat, ataukah lebih realistis memulai dari pengembangan drone tempur seperti LFX-1 dan LFX-2 sebagai pendamping pesawat Sukhoi dan F-16 milik TNI AU?

F-47 adalah pesawat tempur generasi keenam yang dikembangkan oleh Boeing dengan teknologi mutakhir, termasuk kecerdasan buatan, sistem siluman tingkat tinggi, dan kemampuan mengendalikan drone otonom. Pengembangan pesawat sekelas ini membutuhkan puluhan tahun riset, miliaran dolar anggaran, serta dukungan industri pertahanan yang sangat maju. Indonesia saat ini belum memiliki ekosistem industri yang mampu mendukung pengembangan pesawat tempur dengan kompleksitas seperti itu.

Sebagai perbandingan, negara seperti Korea Selatan yang lebih maju dalam industri dirgantara masih membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengembangkan KF-21 Boramae, sebuah pesawat tempur generasi 4.5. Proyek ini pun tidak sepenuhnya mandiri, karena mendapat bantuan teknologi dari Amerika Serikat. Jika Korea Selatan membutuhkan waktu lama untuk mencapai tahap ini, Indonesia yang industrinya masih berkembang tentu membutuhkan strategi yang lebih bertahap.

Salah satu langkah realistis bagi Indonesia adalah memulai dari pengembangan drone tempur sebagai loyal wingman, seperti konsep LFX-1 dan LFX-2. Loyal wingman adalah drone tempur yang dirancang untuk mendukung dan bekerja sama dengan pesawat tempur berawak, memberikan keunggulan taktis di medan perang. Konsep ini sudah diadopsi oleh banyak negara, termasuk Amerika Serikat dengan XQ-58 Valkyrie dan Australia dengan Boeing MQ-28 Ghost Bat.

Dengan mengembangkan drone tempur lebih dulu, Indonesia bisa memperoleh banyak keuntungan strategis. Pertama, biaya pengembangan drone jauh lebih murah dibandingkan pesawat tempur berawak. Kedua, teknologi drone lebih mudah dikuasai dan tidak membutuhkan infrastruktur yang terlalu kompleks. Ketiga, drone bisa dikembangkan dalam berbagai versi sebelum akhirnya dijadikan dasar untuk membangun pesawat tempur berawak di masa depan.

Iran, misalnya, menggunakan pendekatan bertahap dalam mengembangkan pesawat tempurnya. Mereka memulai dengan membuat versi miniatur Qaher 313, lalu mengembangkan drone skala 1:2 untuk menguji aerodinamika dan sistem avioniknya. Baru setelah itu mereka merancang versi berawak. Pendekatan ini bisa menjadi inspirasi bagi BRIN dalam mengembangkan teknologi pesawat tempur di Indonesia.

LFX-1 dan LFX-2 bisa dirancang sebagai drone tempur yang mampu mendampingi Sukhoi Su-27, Su-30, dan F-16 TNI AU dalam misi tempur. Dengan kemampuan kecerdasan buatan, drone ini bisa menjalankan misi pengintaian, peperangan elektronik, bahkan serangan terhadap target musuh tanpa membahayakan pilot Indonesia.

Selain itu, pengembangan drone tempur akan mempercepat transfer teknologi dan membangun kemampuan industri dalam negeri. PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan industri pertahanan lainnya bisa belajar mengembangkan sistem avionik, aerodinamika, dan persenjataan yang nantinya dapat diterapkan pada pesawat tempur berawak di masa depan.

Kunci keberhasilan proyek ini juga bergantung pada kerja sama internasional. Indonesia perlu menggandeng negara-negara yang sudah memiliki pengalaman dalam mengembangkan drone tempur. Turki, misalnya, telah sukses mengembangkan drone Bayraktar TB2 dan Anka yang kini banyak digunakan dalam konflik global. Kerja sama dengan negara seperti Turki, Korea Selatan, atau bahkan China bisa mempercepat pengembangan teknologi pesawat tempur Indonesia.

Tantangan utama dalam proyek ini adalah pendanaan dan dukungan politik. Proyek pengembangan pesawat tempur membutuhkan investasi jangka panjang, yang tidak hanya mengandalkan anggaran negara tetapi juga kerja sama dengan sektor swasta dan investor asing. Jika pemerintah tidak memberikan komitmen penuh, proyek ini bisa terhambat seperti beberapa proyek militer Indonesia sebelumnya yang akhirnya terbengkalai.

Selain pendanaan, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penentu. Indonesia perlu melatih lebih banyak insinyur dirgantara, pakar avionik, dan tenaga ahli lainnya yang mampu mengembangkan teknologi pesawat tempur. Program beasiswa dan kerja sama dengan universitas teknik terkemuka dunia bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia di bidang ini.

Dari sisi teknologi, Indonesia juga harus mulai mengembangkan sistem persenjataan sendiri. Pesawat tempur tanpa persenjataan canggih tidak akan efektif di medan perang. Oleh karena itu, industri pertahanan dalam negeri harus mulai mengembangkan rudal udara-ke-udara, sistem peperangan elektronik, dan teknologi lainnya yang mendukung operasional pesawat tempur di masa depan.

Jika semua elemen ini dapat dikembangkan secara bertahap, Indonesia bisa memiliki pesawat tempur buatan sendiri dalam beberapa dekade mendatang. Memaksakan lompatan langsung ke pesawat sekelas F-47 tanpa melalui tahapan yang lebih realistis hanya akan berujung pada kegagalan.

Pengembangan pesawat tempur tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kesiapan ekosistem industri dan kebijakan strategis yang berkelanjutan. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mencapai level mereka saat ini, dan Indonesia tidak bisa mengabaikan proses panjang ini.

Dengan strategi yang tepat, LFX-1 dan LFX-2 bisa menjadi langkah awal yang membawa Indonesia menuju kemandirian pertahanan udara. Loyal wingman ini bisa menjadi aset berharga bagi TNI AU dalam menghadapi ancaman masa depan, sekaligus menjadi batu loncatan bagi pengembangan pesawat tempur berawak di masa depan.

Ambisi Indonesia untuk memiliki pesawat tempur canggih bukanlah mimpi yang mustahil. Namun, diperlukan pendekatan yang realistis dan bertahap agar proyek ini tidak hanya menjadi sekadar wacana, melainkan benar-benar terwujud dalam kekuatan udara Indonesia di masa depan.

Dibuat oleh AI