Somalia Bidik JF-17 ke Islamabad
Isu rencana pengadaan pesawat tempur JF-17 Thunder oleh Somalia kembali mencuat setelah laporan media Pakistan menyebut adanya pertemuan intensif antara Pemerintah Federal Somalia dan pemerintah Pakistan. Kunjungan tersebut disebut melibatkan delegasi tingkat tinggi, termasuk Komandan Angkatan Udara Somalia, yang melakukan pembicaraan langsung di Islamabad.
Menurut laporan itu, agenda utama pertemuan bukan sekadar kunjungan diplomatik rutin, melainkan membahas secara spesifik kemungkinan transfer atau pengadaan pesawat tempur JF-17 Thunder. Hal ini langsung memicu spekulasi luas tentang siapa aktor utama di balik rencana tersebut, apakah Somalia bergerak atas inisiatif sendiri atau ada keterkaitan dengan wacana bantuan negara Teluk, khususnya Arab Saudi.
Sejauh ini, tidak ada pernyataan resmi dari Riyadh yang mengonfirmasi keterlibatan langsung Arab Saudi dalam pembicaraan tersebut. Wacana tentang kemungkinan hibah atau dukungan Saudi terhadap penguatan militer Somalia memang sudah lama beredar, terutama dalam konteks keamanan Laut Merah dan Teluk Aden, namun belum pernah dikaitkan secara eksplisit dengan program JF-17.
Fakta bahwa Somalia mengirim delegasi sendiri ke Pakistan justru memperkuat indikasi bahwa Mogadishu bertindak sebagai pengusul utama. Keterlibatan langsung Komandan Angkatan Udara Somalia menunjukkan bahwa pembahasan telah masuk ke ranah teknis, mulai dari kebutuhan operasional hingga kesiapan sumber daya manusia.
Langkah ini sejalan dengan upaya Somalia membangun kembali Angkatan Udara yang praktis lumpuh sejak runtuhnya negara pada awal 1990-an. Sejarah menunjukkan bahwa aset udara Somalia, seperti MiG-21 dan Jaguar, gagal dipertahankan akibat ketiadaan ekosistem perawatan dan dukungan logistik.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Somalia terlihat mengambil pendekatan realistis dengan menurunkan standar platform, namun memperkuat keberlanjutan operasional. Pilihan terhadap JF-17 dinilai masuk akal karena pesawat ini dirancang sebagai jet tempur multirole berbiaya relatif rendah dengan skema dukungan yang fleksibel.
JF-17 merupakan produk kerja sama Pakistan dan Tiongkok yang secara agresif dipasarkan ke negara-negara berkembang. Paket yang ditawarkan biasanya tidak hanya mencakup pesawat, tetapi juga pelatihan pilot, teknisi, serta dukungan suku cadang dalam jangka menengah.
Bagi Pakistan, ketertarikan Somalia membuka peluang strategis untuk memperluas pasar JF-17 ke Afrika. Keberhasilan menembus kawasan Tanduk Afrika akan meningkatkan profil industri pertahanan Pakistan sekaligus memperkuat hubungan militer dengan negara-negara di jalur maritim strategis.
Sementara itu, posisi Arab Saudi dalam isu ini lebih sering dipandang sebagai calon fasilitator ketimbang inisiator. Riyadh memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas Somalia, namun cenderung berhati-hati dalam terlibat langsung pada pengadaan alutsista ofensif yang bernilai politis tinggi.
Jika Saudi pada akhirnya terlibat, skemanya diperkirakan muncul dalam bentuk dukungan pendanaan, jaminan finansial, atau bantuan tidak langsung setelah kesepakatan teknis antara Pakistan dan Somalia terbentuk. Pola ini pernah terlihat dalam berbagai proyek keamanan regional lainnya.
Sumber diplomatik menyebut bahwa pembahasan di Islamabad masih berada pada tahap penjajakan. Belum ada kontrak yang ditandatangani, dan berbagai opsi masih terbuka, termasuk jumlah pesawat, varian JF-17, serta tahapan pengiriman.
Di sisi lain, tantangan terbesar Somalia bukan hanya memperoleh pesawat, tetapi memastikan keberlanjutan operasionalnya. Tanpa infrastruktur perawatan, rantai pasok yang stabil, dan SDM terlatih, jet tempur modern berisiko menjadi aset nonaktif seperti pengalaman masa lalu.
Namun, pemerintah Somalia tampaknya belajar dari kegagalan sebelumnya. Pendekatan baru lebih menekankan pada pembangunan ekosistem, bukan sekadar akuisisi platform, sejalan dengan tren di sejumlah negara Afrika yang mulai menghindari ketergantungan pada pesawat mahal berteknologi tinggi.
Dalam konteks geopolitik kawasan, penguatan Angkatan Udara Somalia juga akan berdampak pada keseimbangan kekuatan di Afrika Timur. Kehadiran jet tempur, meski dalam jumlah terbatas, dapat meningkatkan kemampuan pengawasan dan respons terhadap ancaman lintas batas.
Pakistan sendiri dikenal fleksibel dalam menawarkan skema pembayaran dan kerja sama, yang menjadi nilai tambah bagi negara seperti Somalia. Faktor inilah yang membuat Islamabad sering kali dipilih dibanding pemasok Barat atau Rusia.
Hingga kini, baik pemerintah Somalia maupun Pakistan belum mengeluarkan pernyataan resmi yang merinci hasil pertemuan tersebut. Sikap diam ini dinilai wajar mengingat sensitivitas isu pertahanan dan kemungkinan keterlibatan pihak ketiga.
Pengamat menilai bahwa spekulasi mengenai hibah Saudi masih terlalu dini. Tanpa sinyal resmi dari Riyadh, asumsi yang paling kuat tetap bahwa Somalia sedang menjalankan agenda nasionalnya sendiri.
Jika proses ini berlanjut, tahapan berikutnya kemungkinan melibatkan pembicaraan pendanaan yang lebih luas, di mana negara-negara mitra regional bisa mulai memainkan peran. Pada fase inilah nama Arab Saudi berpotensi kembali mencuat.
Untuk saat ini, benang merah yang paling jelas adalah meningkatnya kepercayaan diri Somalia dalam menentukan arah kebijakan pertahanannya. Kunjungan ke Islamabad menjadi simbol bahwa Mogadishu tidak lagi sekadar penerima bantuan, tetapi mulai bertindak sebagai aktor yang aktif bernegosiasi.
Apakah JF-17 benar-benar akan mendarat di Somalia masih menjadi tanda tanya. Namun yang pasti, dinamika ini menandai babak baru dalam upaya Somalia membangun kembali kekuatan udaranya secara bertahap dan terkendali.







Post a Comment